Menu Tutup

Mengenali PASSION: Bagaimana caranya?

Kaum muda atau millenial belakangan sangat peduli pada passion. Beberapa sampai menghabiskan waktu dan biaya hanya untuk berkonsultasi tentang passion. Lalu sebenarnya apa itu passion? Benarkah passion ini berpengaruh pada kesuksesan kita di dalam bekerja? Lalu, bagaimana cara kita mengenali passion? Mari sama-sama kita cari tahu.

 

DEFINISI PASSION

Passion di dalam “Cambridge Dictionary” didefinisikan sebagai perasaan yang sangat kuat, misalnya pada seksual, cinta, benci, marah, dan emosi-emosi lainnya. Artinya passion berhubungan dengan perasaan/emosi seseorang yang sangat kuat baik yang sifatnya positif maupun negatif. Sedangkan passion jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia berarti gairah, yang kurang lebih sama-sama memiliki sisi pengertian positif dan negatif.

Lantas pasti akan ada yang bertanya, “kok pengertiannya jauh seperti yang dibayangkan?” Sederhana, penjelasannya karena terminologi passion yang selama ini dipakai bukan mengarah pada pengertiaannya secara umum, tetapi memiliki pengertian khusus. Passion dari pengertian khusus inilah yang membuatnya begitu diperhatikan.

Passion yang selama ini kita kenal adalah gairah untuk bekerja, yaitu sebuah perasaan yang begitu menikmati pekerjaannya dan berusaha untuk mencapai prestasi maksimal. Menurut Profesor asal Kanada—Robert J. Vallerand mengatakan bahwa passion adalah kecenderungan yang kuat terhadap suatu kegiatan yang disukai, dianggap penting, dimana kita rela untuk menginvestasikan waktu terhadapnya. Perasaaan yang sangat kuat tersebut mampu membuat seseorang rela berkorban dan bersabar untuk atas usaha yang dilakukannya pada suatu pekerjaan tertentu.

DEFINISI PASSION

PASSION DALAM KONSEP IKIGAI

Orang Jepang memiliki konsep ikigai. Di dalam konsep ikigai, passion dijelaskan sebagai himpunan dari apa yang kamu sukai dan (bidang) apa kamu bagus/terampil. Jadi antara passion dan life skill berjalan beriringan. Banyak pandangan keliru tentag passion. Akhirnya berujung pada perasaan seseorang yang tidak dapat menikmati prosesnya.

Misalnya ada seseorang yang berkata bahwa passion adalah apa yang kamu sukai saja, itu salah. Jika kamu menyukai suatu bidang tetapi kamu tidak memiliki keterapilan di bidang tersebut maka kamu akan frustasi saat mengerjakannya. Sama seperti ketika kamu hanya suka mendengarkan musik tetapi tidak terampil bernyanyi atau bemain alat musik. Musik adalah hanya apa yang kamu suka.

Kemudian misalnya ada seseorang yang berkata bahwa passion adalah apa yang kamu terampil atau memiliki bakat saja, itu juga salah. Jika kamu memiliki karunia bakat/keterampilan pada suatu bidang tetapi kamu tidak menyukainya maka kamu akan merasa tertekan ketika mengerjakannya. Sama seperti Ketika kamu memiliki suara bagus atau pandai bermain violin tetapi kamu tidak menyukai musik, maka musik adalah hanya apa yang kamu bagus.

Passion adalah perpaduan keduanya. Contohnya ketika kamu suka mendengarkan musik. Di sisi lain kamu juga terampil bernyanyi/bermain alat musik. Maka menurut konsep ikigai, kamu memiliki passion di bidang musik. Serta begitu juga pada semua bidang, misalnya jurnalistik, sepak bola, debat, memasak, menghitung, dan sebagainya.

PASSION DALAM KONSEP IKIGAI

PASSION BAIK DAN PASSION BURUK

Seorang kakek pernah bercerita bahwa ia sudah puluhan tahun menjadi seorang petani. Meski di usianya yang saat ini yang sudah bercucu-cicit tetap tidak menghalanginya untuk beraktivitas seperti biasa; saat pagi sudah pergi ke sawah, siang mampir sebentar ke kandang sapi, dan tidak lupa dua kali dalam sehari selalu memantau kondisi kolam ikan miliknya. Ia sangat bergairah dalam melakukan pekerjaannya. Sembari guyon ia pernah berkata, “Kalau istirahat di rumah selain bosan, badan juga malah sakit”.

Kasus di atas merupakan contoh dari gairah harmonis (harmonious passion). Gairah yang harmonis, di sisi lain, mengacu pada kecenderungan motivasi yang mengarahkan individu untuk memilih secara bebas untuk terlibat dalam aktivitas. Alih-alih merasa tertekan, seperti halnya dengan hasrat obsesif, individu dengan hasrat yang harmonis merasa mengendalikan kegiatan mereka dan dapat memutuskan kapan akan terlibat di dalamnya. Karena itu, kegiatan yang penuh gairah selaras dengan kegiatan atau tanggung jawab dalam konteks kehidupan lainnya. Hasrat yang harmonis diharapkan menghasilkan konsekuensi positif.

Ada juga seorang karyawan kantor biasa. Setiap hari berangkat pukul 6 pagi dan pulang ke rumah pukul 4 sore. Kadang-kadang masih ada pekerjaan yang perlu dibawa pulang untuk dikerjakan di rumah. Namun diakhir pekan, ia hampir tidak pernah melewatkan satu malam pun untuk absen dari pergi ke rumah judi. Kadang-kadang untuk dapat singgah ke rumah judi ia sampai meninggalkan tugas-tugas yang perlu diselesaikan untuk hari esok. Di tempat itu ia rela menghabiskan waktu dan uang penghasilannya. Meski berkali-kali jatuh merugi dan berhutang, gairahnya untuk berjudi tidak pernah pudar.

Kasus di atas merupakan contoh dari gairah obsesif (Obsessive passion). Gairah obsesif mengacu pada tekanan internal yang memaksa individu untuk melakukan suatu kegiatan. Orang dengan hasrat obsesif mengalami dorongan untuk melakukan aktivitas yang sulit ditolak. Ini dapat menciptakan konflik karena individu merasa terjebak di antara dorongan untuk mengambil bagian dalam aktivitas mereka yang penuh gairah dan kewajiban mereka dalam konteks kehidupan lain. Akibatnya, mereka cenderung mengalami konsekuensi negatif selama dan setelah latihan aktivitas mereka yang penuh gairah.

Pada contoh karyawan yang berjudi tadi, ia memiliki gairah yang obsesif. Ia mungkin merasa bersalah karena menghabiskan terlalu banyak waktu di rumah judi dibandingkan memanfaatkan waktu untuk produktif atau sekedar berkumpul bersama keluarga. Tetapi dorongan hasrat yang terlalu kuat membuat ia tetap berjalan ke rumah judi dan mengabaikan rasa bersalahnya.

PASSION BAIK DAN PASSION BURUK
Foto oleh Javon Swaby dari Pexels

MENCARI PASSION YANG SESUAI

Passion atau gairah dalam bekerja dapat kamu cari melalui filter-filter diatas. Caranya bisa dengan melakukan tahap-tahap dibawah ini:

  1. Membuat List

Untuk membuat list kamu perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut:

List 1

  • Apa yang kamu sukai?
  • Apa hobi kamu selama ini?
  • Kegiatan seperti apa yang bisa membuat kamu merasa senang?
  • Kegiatan seperti apa yang bisa membuat kamu bosan?
  • Kegiatan seperti apa yang ketika dikerjakan kamu tidak pernah merasa bosan?

 

List 2

  • Apa bakat kamu?
  • Hal-hal apa yang Ketika kamu kerjakan hasilnya cukup memuaskan?
  • Apa saja pencapaian kamu selama ini?
  • Saat-saat apa biasanya ketika orang memuji kamu?

 

  1. Membuat Himpunan Kegiatan

Kamu sekarang memiliki banyak list. Buatlah himpunan kegiatan dari keduanya, yaitu dengan mencari kegiatan-kegiatan apa saja yang berada di list 1 dan juga ada di list 2. Setelah selesai membuat himpunan kegiatan dari kedua list, saatnya melakukan filter ketiga.

 

  1. Memetakan Passion

Untuk melakukan filter ketiga, kamu perlu membuat tabel dengan 2 kolom. Kolom pertama diberi nama harmonious passion. Kolom kedua dibei nama Obsessive passion. Isi kedua kolom tabel tersebut dengan menggunakan himpunan kegiatan yang sudah kamu buat sebelumnya.

Isilah kolom harmonious passion dengan kegiatan-kegiatan yang positif, penting, produktif bermanfaat, dan tidak merugikan baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Lalu isilah kolom Obsessive passion dengan kegiatan yang kamu anggap kebalikan dari kolom sebelumnya. Selamat! Sekarang saatnya kamu menyarankan teman kamu yang belum menyadari Passion-nya untuk membaca artikel ini agar bisa mengikuti jejak kamu.

coba anda baca juga artikel tentang passion ini 10 Things You Should Know About Passion (And How To Find Yours)

baca juga 10 blog digital marketing untuk jadikan referensi

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *