Makalah Peternakan : Manajemen Kesehatan Dalam Usaha Peternakan Kambing Yang Berkelanjutan

Berikut ini sekilasinfo bagikan sebuah contoh makalah di jurusan ilmu dan industri peternakan. semoga bermanfaat ya.


Makalah Sistem Produksi Ternak Potong

MANAJEMEN KESEHATAN DALAM USAHA PETERNAKAN KAMBING YANG BERKELANJUTAN

Oleh Quthub Muhammad
12/331820/PT/06283

LABORATORIUM TERNAK POTONG, KERJA, DAN KESAYANGAN
FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2014


BAB I . Pendahuluan

1.1.       Latar Belakang

Kambing   merupakan ternak ruminansia kecil yang banyak dipelihara petani ternak di pedesaan dengan berbagai tujuan, antara lain sebagai tabungan yang sewaktu-waktu dapat dijual untuk keperluan hidupnya. Populasi ternak kambing di Indonesia pada tahun 2013 sekitar 18 juta ekor yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, terutama di pulau Jawa (sekitar 50% dari total populasi).

Ternak ini mempunyai nilai ekonomi bagi peternak karena mudah dipelihara, tidak membutuhkan lahan yang luas, berbagai sumber pakan tersedia di pedesaan, daya reproduksinya cukup tinggi, dan lama pemeliharaan hingga dewasa relatif cepat. Kontribusinya dalam penyediaan daging secara nasional walaupun masih relatif rendah (hanya 5%), tetapi memiliki potensi dimasa mendatang untuk mendukung ketahanan pangan asal ternak. Selain itu permintaan ekspor ke beberapa negara masih belum dapat dipenuhi .

Berbagai kendala yang dihadapi dalam usaha tani-ternak kambing antara lain masalah ketersediaan bibit yang baik sangat sulit diperoleh. Kendala lainnya adalah timbulnya penyakit yang menyerang ternak kambing terutama penyakit-penyakit parasiter yang menghambat pertambahan bobot badan ternak (mengganggu produktivitas), walaupun angka kematiannya relatif rendah. Penyakit infeksius yang disebabkan oleh virus dan bakteri seringkali menimbulkan kematian yang cukup tinggi .

Meskipun dari komponen produksi, masalah kesehatan hewan hanya sekitar 5% dari total biaya produksi, tetapi kesehatan hewan mutlak harus mendapat perhatian karena dapat berakibat fatal. Oleh karena itu manajemen kesehatan hewan merupakan bagian (subsistem dari usaha tani ternak) yang tidak terpisahkan dalam sistem usahatani-ternak modern.

Dalam manajemen kesehatan ternak, upaya pencegahan tetap merupakan tindakan terbaik, sedangkan penanggulangan terhadap penyakit-penyakit tertentu juga diperlukan apabila situasi dan kondisinya menuntut dilakukan tindakan tersebut. Pada makalah ini akan diulas berbagai penyakit yang dapat menyerang ternak kambing (terutama penyakit yang bernilai ekonomis dan strategis) serta upaya penanganannya .

kambing boerawa
kambing boerawa

1.2.       Perumusan Masalah

Penyakit merupakan salah satu hambatan yang perlu diatasi dalam usaha ternak kambing. Melalui penerapan manajemen kesehatan ternak yang dilakukan secara berkelanjutan, diharapkan dampak negatif dari penyakit ternak dapat diminimalkan.

1.3. Tujuan

Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk membuat rumusan manajemen kesehatan usaha ternak kambing yang tepat dan berkelanjutan. Sehingga, diharapkan dampak negatif dari penyakit ternak dapat diminimalkan. Langkah ini perlu untuk menjaga kesinambungan produksi ternak kambing  .

1.4. Manfaat

Manfaat dari pembuatan makalah ini adalah dapat membantu peternak kambing   dalam mempersiapkan manajemen kesehatan ternak yang tepat untuk mewujudkan usaha peternakan kambing   yang berkesinambungan.


BAB II. Pembahasan

 Kesehatan ternak menjadi sangat penting karena akan menyebabkan kerugian akibat: (a) gangguan pertumbuhan (pertambahan berat badan harian rendah), (b) dewasa kelamin atau umur beranak pertama terlambat, (c) daya reproduksi terganggu, (d) efisiensi pakan rendah, dan (e) kematian ternak.

Oleh karena itu, dalam pemeliharaan ternak kambing perlu mengetahui sedini mungkin gejala-gejala atau tanda-tanda penyakit secara umum, antara lain berupa: (a) kurang nafsu makan/tidak mau makan, (b) tidak lincah/lebih banyak diam, (c) lemah/lesu, (d) menyendiri, (e) menggaruk-garuk badan, (f) kotoran tidak normal (warna, bau, konsistensi), (g) dan lain sebagainya.

Bila dijumpai ternak dengan tanda-tanda seperti demikian, patut dicurigai bahwa ternak tersebut kurang sehat/sakit, oleh karena itu untuk menghindari terjadinya penularan/penyebaran penyakit lebih lanjut, ternak tersebut sebaiknya diisolasi pada tempat/kandang khusus yang terpisah dari ternak sehat lainnya.

Selama isolasi diberi makanan dan minuman yang baik, serta diamati terhadap kemungkinan terserang penyakit menular dengan melakukan pemeriksaan klinis dan laboratoris secara intensif. Segera ambil tindakan (pengobatan atau pengeluaran/ pemusnahan) apabila telah diperoleh kepastian hasil diagnostik (Bahri, 2010).

Dalam membangun usaha ternak kambing perlu diperhatikan 4 hal yang berkaitan dengan tatalaksana kesehatannya, yaitu: (1) tahap pemilihan lokasi, (2) tahap persiapan/pengadaan ternak, (3) tahap adaptasi sebelum di tempatkan dalam kandang atau lahan pemeliharaan, dan (4) tahap pemeliharaan. Keempat tahapan ini sangat penting untuk diperhatikan agar kejadian wabah penyakit pada saat pemeliharaan selanjutnya dapat dihindari (Bachri, 2010).

Tahap Pemilihan Lokasi

Sebelum memutuskan lokasi peternakan yang akan dijadikan tempat  pemeliharaan ternak kambing perlu dicari dahulu beberapa informasi penting tentang status penyakit hewan di daerah sekitar lokasi, misalnya apabila daerah tersebut pernah terjadi wabah penyakit anthrax, sebaiknya tidak digunakan untuk lokasi peternakan atau apabila digunakan maka ternak kambing yang akan dipelihara harus divaksinasi anthrax secara teratur.

Selain itu perlu diketahui keadaan lingkungan setempat, apakah daerah tersebut daerah industri, pertambangan, pembuangan limbah, dan sebagainya. Informasi lain mengenai sumber air, pakan atau tanaman beracun yang ada disekitar lokasi juga perlu diketahui untuk dijadikan pertimbangan memilih lokasi peternakan atau untuk mengantisipasi tindakan pencegahan.

Tahap Persiapan/pengadaan ternak

Dalam memilih ternak kambing yang akan dikembangbiakkan pada daerah baru perlu diperhatikan status dan sejarah penyakitnya di daerah sumber bibit dimana ternak akan dijadikan sebagai sumber pasokan. Sebaiknya kambing tersebut mendapat vaksinasi terhadap beberapa penyakit penting (anthrax dan orf) terutama apabila ternak akan dibawa ke daerah yang endemis atau positif Anthrax. Selanjutnya kambing yang akan dipilih harus bebas dari serangan penyakit, oleh karena itu perhatikan gejala klinis terhadap berbagai penyakit (kudis, orf,  pink eye, dan sebagainya).

Untuk mengurangi stress, kecelakaan (patah kaki, dsb) dan kematian dalam transportasi, hendaknya dilakukan dengan persiapan yang matang dan menggunakan alat angkut ternak (transportasi) yang memadai serta tidak berdesakdesakan. Apabila terlalu jauh perlu diistirahatkan, beri makan dan minum yang cukup dan bergizi serta dapat diberi obat anti stress. Apabila ternak ada yang sakit (penyakit mata, orf, kudis, dan sebagainya) hendaknya diobati dahulu agar tidak menular. 

Tahap Adaptasi

Ternak yang baru tiba di lokasi jangan langsung ditempatkan pada kandang/tempat pemeliharaan permanent, tetapi tempatkan dahulu pada kandang sementara untuk proses adaptasi yang memerlukan waktu sekitar beberapa minggu.

Dalam proses adaptasi ternak diamati terhadap penyakit cacing (dengan memeriksa fesesnya), penyakit orf, pink eye, kudis, diare, dan sebagainya. Apabila positif terhadap penyakit tertentu segera diobati dan lakukan isolasi. Dalam adaptasi ini juga termasuk adaptasi terhadap jenis pakan yang akan digunakan dalam usaha ternak kambing.

Pada adaptasi ini biasanya harus disiapkan berbagai obat-obatan untuk mengantisipasi terhadap kemungkinan timbulnya berbagai penyakit. Setelah 2-4 minggu ternak dalam keadaan sehat, maka siap untuk dipindahkan dalam kandang utama.

Tahap Pemeliharaan

Produktivitas ternak akan terganggu apabila ternak tidak sehat atau terserang penyakit, oleh karena itu untuk menjamin keberhasilan usaha ternak kambing, ternak harus sehat. Hal ini hanya dapat dicapai apabila kontrol terhadap penyakit berjalan dengan baik, selain diberi pakan dengan jumlah dan gizi yang cukup serta perkandangan dan sanitasi yang memadai.

Dalam hal ini kontrol terhadap penyakit parasit perlu dilakukan secara berkesinambungan, obat cacing diberikan secara berkala, sesuaikan dengan kondisi musim (terutama pada musim hujan). Pengendalian parasit saluran pencernaan pada sistem pastura dapat dilakukan dengan sistem rotasi. Pada umumnya pengendalian penyakit disesuaikan dengan sistem pemeliharaan (dikandangkan atau digembalakan atau keduanya).

peternakan kambing intensif
peternakan kambing intensif

Pemeliharaan tradisional yang bercampur dengan peternakan rakyat terutama domba akan menyulitkan dalam mengontrol serangan penyakit. Untuk menjamin agar infestasi parasit (terutama parasit internal/cacing) pada ternak kambing yang dipelihara tercampur dengan ternak rakyat perlu pemberian obat cacing secara teratur, terutama pada musim hujan. Untuk meningkatkan ketahanan tubuh ternak terhadap serangan penyakit parasit, penyakit pneumonia dapat dilakukan dengan pemberian pakan bergizi dengan jumlah yang cukup serta sanitasi kandang.

Pada tahap pemeliharaan ini sebaiknya pencegahan tehadap penyakit tertentu seperti anthrax (untuk daerah endemis) perlu dilakukan dengan melakukan vaksinasi secara teratur. Bila dijumpai ternak dengan gejala tidak sehat seperti yang diterangkan pada bagian terdahulu, sebaiknya segera diisolasi dan ditempatkan pada kandang terpisah yang agak jauh dari ternak lainnya. Observasi terus dilakukan sambil diberi pengobatan berdasarkan diagnosis penyakit sementara atau pengobatan simtomatik (Hardjoutomo, 1990).

Tiga prinsip kesinambungan produksi peternakan

Kesinambungan produksi suatu sistem produksi peternakan dapat ditinjau dari tiga aspek: ekonomi, sosial dan lingkungan. Suatu usaha produksi bisa dikatakan berkesinambungan bila tiga aspek tersebut menunjukkan tren positif. Ternak sakit dapat menyebabkan kerugian karena performa produksi turun.

Manajemen kesehatan bila diterapkan dapat mencegah penularan penyakit sehingga kerugian dapat dihindari. Ada beberapa penyakit ternak yang bisa menular pada manusia. Tersebarnya kabar bahwa ternak di peternakan kita banyak yang sakit dapat menurunkan trust masyarakat kepada kita.

Masyarakat dapat bertindak anarkis dan merugikan perusahaan. Manajemen kesehatan ternak dapat mencegah hal-hal tersebut terjadi. Lingkungan menjadi lebih bersih dan aman karena manajemen kesehatan yang diterapkan memang mengharuskan lingkungan kandang menjadi bersih. Hal ini berkolerasi usaha-usaha pencegahan penyakit lainnya. Lingkungan yang bersih dapat mencegah penularan penyakit.


BAB III : Kesimpulan

 Berdasarkan uraian-uraian tersebut, sistem manajemen kesehatan ternak kambing merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari sistem usaha agribisnis ternak kambing secara kesinambungan.

Tahap pemilihan lokasi peternakan merupakan tahap awal yang menentukan apakah lokasi tersebut aman dari kemungkinan munculnya wabah penyakit tertentu, sedangkan tahap persiapan dan pengadaan ternak merupakan tahap berikutnya yang menentukan bahwa ternak yang akan dipelihara dalam keadaan sehat.

Tahap adaptasi merupakan karantina untuk menjamin bahwa ternak kambing yang akan dipelihara lebih lanjut telah benar-benar aman dari penyakit yang kemungkinan terbawa dari daerah asal.

Tahap pemeliharaan sendiri sangat menentukan produktivitas ternak berkaitan dengan gangguan kesehatan. Oleh karena itu pencegahan dan pengendalian terhadap penyakit-penyakit ternak tertentu harus selalu mendapat perhatian terutama penyakit skabies dan cacingan untuk golongan penyakit parasiter dengan menerapkan kontrol penyakit secara berkesinambungan.


Daftar Pustaka

 Anonim. 1993. Manajemen Penyakit Hewan, Seri: Pedoman Pengendalian Penyakit Hewan Menular. Jilid 3-4-5. Direktorat Jendral Peternakan, Departemen Pertanian. Jakarta.

Bahri, S.R. M. A. Adjid, Beriajaya, dan April H Wardhana. 2010. Manajemen Kesehatan dalam Usaha Ternak Kambing Balai Penelitian Veteriner, Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Bogor: 79-85

Hardjoutomo, S. P. Ronohardjo dan Koko Barkah.1990. Kasus Anthrax di Jawa tengah 1990. Penyakit Hewan. 22 (39): 32-35.


Baca juga :


Tinggalkan komentar