Independensi dalam Praksis Ideologi

Dalam pasal 6 Anggaran dasar HMI-MPO disebutkan bahwa HMI-MPO adalah organisasi yang bersifat independen. Oleh karena itu, sifat independensi menjadi salah satu bentuk tafsiran praksis dari ideologi Islam yang diyakini oleh HMI-MPO. Dan pembahasan mengenai independensi menjadi salah satu bagian khusus dari khittah perjuangan HMI-MPO yang merupakan tafsir dari pasal 6 Anggaran Dasar HMI-MPO.

Pembahasan independensi dalam khittah perjuangan selalu dikaitkan dengen kemerdekaan sebagai fitrah dasar manusia. Dalam tafsir independensi pada khittah perjuangan dikatakan:

“Secara fitrawi, manusia terlahir dengan membawa anugerah kemerdekaan dari Allah swt. Kemerdekaan tersebut didasarkan pada anugerah Allah beupa akal dan hati yang membuat manusia memiliki kesadaran akan dirinya. Kemerdekaan yang sesungguhnya akan menjadi rahmat yang sebenar-benarnya bagi mausia bila disikapi dan diaktualisasikan berdasarkan petunjuk jalan yang benar dari Allah. Kemerdekaan semacam ini bermakna pilihan yang sadar dan bertanggung jawab atas jalan hidup tertentu serta secara konsisten meninggalkan pilihan lainnya.”

Oleh karena itu, kemerdekaan adalah sebuah pemihakan. Yaitu pemihakan terhadap segala sesuatu yang berasal dari dan bertujuan kepada kebenaran (dalam hal ini ideologi Islam). Pemihakan tersebut tercermin dalam kerja-kerja kemanusiaan atau amal saleh yang menajdi rahmat bagi umat manusia dan alam semesta. Kemerdekaan dalam artian pemihakan secara penuh terhadap kebenaran memerlukan pengorbanan dan bahkan penderitaan yang cukup berat. Oleh karena itu, dituntut kemampuan diri yang memadai dalam seluruh aspek kehidupan. Yaitu, kemampuan yang berasal dari pengembangan berbagai institusi diri dengan seimbang yang dimungkinkan oleh konsistensi sikap dan pemahaman mengenai medan juang yang baik di sisi yang lain. Hal ini membutuhkan proses pembelajaran secara terus menerus yang tercermin dalam sikap kritis, obyektif, dan progresif dalam memahami dan menyikapi realitas yang berkembang.

Sebagai individu yang merdeka dan memiliki visi dan komitmen yang serius pada ideologi Islam. Sikap independen merupakan sikap yang harus mewarnai gerak organisasi. Mengenai penjelasan teknis dari indpendensi dalam khittah perjuangan adalah:,

“independensi berarti, tidak menjadikan jamaah sebagai bawahan atau underbouw dari jamaah yang lain. Independensi juga berarti sikap bebas di segala bidang dengan penuh kepercayaan diri sendiri untuk memperjuangkan misi yang ditetapkan. Independensi juga bisa bermakna, senantiasa mempertahankan sikap mandiri dan kritis terhadap segala hal tanpa ada campur tangan dari pihak-pihak lain.”

Dikatakan dalam khittah perjuangan, independensi merupakan derivasi dari karakteristik insan ulil albab yang menjadi sebuah model insan cita HMI-MPO. Sikap independensi meniscayakan hadirnya beberapa sikap utama dalam diri seorang kader. Yaitu,

“…Cenderung kepada kebenaran, (hanif), merdeka, kritis, jujur, progresif, dan adil. Dengan kata lain sikap independensi diwujudkan dengan kesanggupan untuk berbuat dan bertindak secara mandiri dengan keberanian menghadapi resiko. Sikap independensi menuntut tiap-tiap individu dalam jamaah dapat mempengaruhi masyarakat dan mengarahkan sistem kemasyarakatan ke arah yang dikehendaki Islam. Secara teknis sikap independensi juga memestikan kader untuk selalu tunduk pada ketentuan organisasi dan memperjuangkan misi organisasi. Serta tidak dibenarkan untuk membangun komitmen dalam bentuk apa pun dengan pihak luar yang bertentangan dengan yang telah diputuskan secara bersma.”

By : Sabara Putera Borneo

Alumni Cabang Makasar


Baca juga: