Sekilas tentang Sejarah Tugu Yogyakarta

Kemarin sehabis subuh sepedaan pagi-pagi menelusuri daerah yang biasanya menjadi pusat keramaian malam tahun baru di Yogyakarta. Tentu salah satunya adalah tugu Yogyakarta. Di tempat itu ada miniatur Tugu Golong Gilig simbol tekad bulat kesatuan pemimpin dan rakyat. Kemarin pagi miniatur Tugu Golong Gilig “dipenjara” sementara agar tidak menimbulkan kerumunan apalagi menjelang tahun baru. Pagi ini tugu (white paal) yogyakarta saya lihat juga sudah “dipenjara” juga. Di masa Covid-19 ini kita berharap tidak ada kerumunan termasuk di saat malam tahun baru.

 

Ngomong-ngomong tentang tugu, sesungguhnya perlu menyadari makna penting keberadaannya sebagai monumen sejarah yang patut dikenang oleh mereka yang lewat di sana. Tugu Paal Putih / White Paal yang dikenal dengan tugu Yogyakarta adalah rancangan arsitektur kolonial arsitektur bernama YPF Van Brussel yang selesai dibagun baru pada tahun 1889 M. Datang berkerumun melihat tugu Yogyakarta adalah mengenang kontribusi kolonial Belanda yang warisan kolonialismenya masih terasa hingga saat ini. Tugu ini dibangun setelah tugu asli yang dirancang oleh pangeran Mangkubumi (Sri Sultan HB I) runtuh karena gempa pada tahun 1867 M.

 

Tugu asli itu bernama Tugu Golong Gilig, karena bentuknya memang golong (berupa silinder) dengan puncak gilig (berupa bulatan). Bentuknya yang berupa golong gilig merupakan simbol filosofi Manunggaling Kawulo Gusti yang memiliki makna kesatuan tekad mewujudkan kemuliaan bersama antara rakyat dengan pemimpin. Juga sebagai simbol atas tekad kawula Yogyakarta untuk menjalankan ajaran kebenaran dan menerima kehendak Sang Pencipta.

 

Tugu golong-gilig ini sekarang miniaturnya bisa disaksikan di pojok sebelah tenggara Tugu Yogyakarta ini. Keberadaannya sangat penting untuk mengingatkan tentang tekad kuat golong gilig itu. Mesti ukurannya masih lebih kecil dibandingkan tugu karya kolonial itu, setidaknya ini menjadi pengingat bahwa harus terus digelorakan semangat golong gilig ini. Sambil merenungkan bahwa sesungguhnya penjajahan atas kekayaan alam masih terjadi di negeri ini.

 

M Ashad K


Baca juga :


Tinggalkan komentar